Insight
Pemerintah Indonesia sangat gencar membangun infrastruktur. Salah satunya adalah program tol laut agar tercipta konektivitas antar daerah.
Transpedia artiicle
membangun jalur logistik laut sepanjang jalur sutra
M

embangun Jalur Logistik Laut sepanjang Jalur Sutra

China sudah membangun pelabuhan Hambantota di Srilanka dan Gwadar di Pakistan.

Di kawasan Asia Tenggara, China akan membangun proyek jalur laut.

China sudah melakukan pembicaraan dengan Malaysia dan Indonesia untuk proyek yang serupa.

Selain itu, dalam waktu dekat China akan membujuk Singapura agar ikut mendukung proyek ini.

Peran ASEAN

Singapura telah menolak terlibat dalam megaproyek ambisius China itu, sejumlah kesepakatan China dengan negara Asia Tenggara lainnya dapat terganggu.

Seperti diketahui, dua negara tetangga terdekat Singapura, yakni Indonesia dan Malaysia telah sepakat menarik investasi besar dari China.

Dalam KTT OBOR Mei 2017, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak menandatangani 9 (sembilan) dokumen kerjasama dengan China untuk usulan investasi senilai US$7,2 miliar.

Sementara itu, Indonesia menandatangani fasilitas pinjaman dari China senilai US$5 miliar.

Meskipun demikian, China tetap menjadi mitra dagang terbesar di Singapura selama ini. Singapura masih merupakan investor terbesar kedua di China.

Nilai kerja sama kedua Negara merosot dari $6,97 miliar pada 2015 menjadi $6,18 miliar pada tahun 2016.

Peran Indonesia di Jalur Sutra

Pemerintah Indonesia sangat gencar membangun infrastruktur. Salah satunya adalah program tol laut agar tercipta konektivitas antar daerah.

Program tol laut memiliki kesamaan tujuan dengan jalur sutra maritim dalam Proyek OBOR.

Melalui Proyek Obor ini, Pemerintah China mengajak agar Pemerintah Indonesia terlibat aktif.

Pada saat pertemuan sebelumnya antara pemerintah Indonesia dengan China pada 2015, kedua negara telah membahas beberapa kerja sama, termasuk pembangunan 13 unit Kawasan Industri Terpadu (KIT) yang disepakati pada Oktober 2013.

Pada awalnya, sejumlah KIT yang dibahas yaitu berlokasi di Kuala Tanjung (Sumatra Utara), Sei Mangkei (Sumatra Utara), Tanggamus (Lampung), Batulicin (Kalimantan Selatan), Ketapang (Kalimantan Barat), dan Mandor (Kalimantan Barat).

Selanjutnya, Bitung (Sulawesi Utara), Palu (Sulawesi Tengah), Morowali (Sulawesi Tengah), Konawe (Sulawesi Tenggara), Bantaeng (Sulawesi Selatan), Buli (Halmahera Timur, Maluku Utara), dan Teluk Bintuni (Papua Barat) juga termasuk diantara lokasi KIT.

Pembangunan KIT di luar Pulau Jawa ini membutuhkan investasi sekitar Rp 55,4 triliun.

Di lain sisi, investasi yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur diluar KIT seperti pelabuhan dan sarana penunjang sebesar Rp 1,1 triliun.

Dana tersebut diharapkan pemerintah datang dari investasi asing ke Indonesia, dimana Indonesia berjanji akan memberikan sejumlah kemudahan investasi.

Sebelumnya, terdapat 3 hub ekonomi yang diajukan pada pertemuan BRF pada Mei lalu, yaitu di Bitung Sulawesi Utara, Tanjung Kuala di Sumatera Utara, serta pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Provinsi Kalimantan Utara.

Pemerintah menawarkan pembangunan hub ekonomi melalui pembangunan bandara dan jalur rel kereta api yang akan menghubungkan Manado hingga ke Gorontalo dan pelabuhan yang akan menghubungkan jalur maritim ke Darwin Australia hingga ke sebelah utara menuju Tokyo, Jepang, dan Tiongkok.

Sementara untuk koridor di Sumatera Utara, pemerintah menawarkan investasi di pembangunan jalan dan kereta api yang akan mengembangkan sektor pariwisata dan perdagangan (Kuala Tanjung-Parapat-Sibolga).

Selain itu ada juga jalan yang terintegrasi ke Pekanbaru dan Duri Dumai.

Sementara untuk di wilayah Kalimantan Utara, Indonesia menawarkan kerja sama energi. Kawasan Kalimantan Utara memiliki potensi listrik sebesar 7.200 Mega Watt dan ada keinginan pemerintah untuk membuat smelter dan industrial park.

Saat ini China mematok harga listrik 10-12 sen per kwh, jika China melakukan kerja sama dengan Indonesia, maka harganya bisa jauh lebih murah menjadi 4-5 sen per kwh. Hal ini tentu saja bisa mengurangi polusi.

Pada saat Konferensi Tingkat Tinggi One Belt One Road ( Proyek OBOR ) di Beijing Mei lalu, Presiden Joko Widodo mendapat komitmen investasi hingga US$ 28 miliar dari pemerintahan China.

Pemerintah menyiapkan tiga Provinsi untuk menyambut investasi teranyar dari China. Komitmen investasi tersebut didapat saat Presiden Joko Widodo menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi One Belt One Road ( Proyek OBOR ) di Beijing, beberapa waktu lalu.

Tiga provinsi tersebut adalah Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dengan Sulawesi Utara.

Agar semua proyek pemerintah ini dapat berjalan dengan baik, maka semua pihak harus dapat melakukan sinergi dan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu untuk terlibat dalam setiap proyek diatas.

Tentunya hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama, yang membutuhkan komitmen yang luar biasa dari seluruh pemimpin dan rakyat Indonesia.

Related Posts

Leave a comment