Insight
Di Indonesia sendiri, rata-rata waktu yang digunakan untuk membuka media sosial (termasuk Facebook) adalah 3 jam 23 menit/hari .
platform media sosial

Platform Media Sosial sebagai peluang atau ancaman ?

W

ake up Call.

Sejak munculnya berita bahwa sebuah perusahaan konsultan politik seperti Cambridge Analytica , yang telah memanfaatkan informasi pribadi milik 87 juta orang pemilik akun Facebook untuk memenangkan seorang capres dari salah satu partai di negara adidaya pada pemilu 2016, tentu saja semua orang di dunia terkejut dan bingung harus berkata apa.

Hal ini seperti ‘wake up call’ bagi setiap orang baik yang ada di Posisi Teratas sampai dengan masyarakat umum.
Apakah hal ini wajar terjadi atau sudah diluar kewajaran.

Karena dalam kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak sadar, kita sudah terbiasa memaparkan informasi dan data kita di berbagai platform media sosial, bahkan kita selalu memberikan update tentang kegiatan kita atau bahkan kita ikut mengisi berbagai survei atau ajakan yang ditawarkan.

Apakah hal ini salah?

Tentu saja tidak. Hal ini akan banyak membantu berbagai pihak dalam melakukan komunikasi dan koordinasi dalam pekerjaan atau kegiatan tertentu secara real time dan dua arah.

Tetapi, ternyata tidak semua orang atau pihak berpikir demikian. Ada saja yang memanfaatkan informasi atau data yang ada di platform media sosial untuk hal-hal yang kurang baik.

Media Sosial dipakai sebagai Senjata untuk melumpuhkan lawan.

Media Sosial selama ini sudah digunakan sebagai tools yang kuat dalam memobilisasi sebuah komunitas atau kelompok yang berpikiran atau berperilaku sama, baik untuk hal yang positif dan negatif.

Jika dalam Strategi Pemasaran, tentu saja hal ini akan memberikan dampak positif yaitu naiknya tingkat penjualan produk atau jasa sebuah perusahaan, dan bahkan dapat memperbaiki Brand sebuah perusahaan.

Tetapi jika digunakan untuk hal yang negatif, berbagai platform media sosial dapat menggerakkan hal-hal seperti radikalisme, rekrutmen kader, kegiatan intelijen atau bahkan membuat gerakan tertentu.

Kita menghadapi tantangan sosial yang multidimensi, dengan berbagai isu yang tersebar di masyarakat, yang cenderung tidak terkendali dan acak.

Walaupun berbagai badan resmi dan tidak resmi berusaha untuk mengendalikan isu yang ada, tetapi hal ini akan sulit dijalankan, baik karena tuntutan masyarakat yang ingin bebas dalam berbagi informasi atau perusahaan penyedia platform media sosial yang memberikan kebebasan dalam menyebarkan informasi dan data.

Weaponization of Social Media.

Thomas Nissen menjelaskan dalam bukunya ‘The Weaponization of Social Media’ bahwa sangat sulit mengendalikan penyebaran informasi di platform media sosial.

Bahkan dia menyampaikan bahwa kita harus bijaksana dalam menggunakan media sosial ini, memilih mana teman atau bukan, apakah perlu menyampaikan semua informasi atau tidak.

Dan sayangnya media sosial ini sudah merubah berbagai persepsi orang tentang transparansi, diplomasi, bahkan sudah merubah total standar tentang jurnalisme.

Media Sosial ini, sudah memberikan dampak yang luar biasa kepada politik global dan konflik antar berbagai kelompok dan kepentingan.

Bahkan Media Sosial sudah digunakan sebagai senjata untuk menyerang kelompok atau negara tertentu.

Melalui berbagai Platform Media Sosial, kita dapat menentukan sasaran yang hendak dituju secara spesifik dan real time, bahkan hal psikologis digunakan dalam menyampaikan berita dan informasi.

Kita tahu, bahwa dalam dunia demokrasi maupun otokrasi, bahwa sumber daya yang paling berharga adalah informasi. Sementara saat ini, informasi bertebaran di media sosial setiap saat.

Saat ini sangat sulit membedakan mana informasi yang benar dan tidak benar (fake).

Seseorang membutuhkan suatu keahlian dan usaha tertentu untuk memastikan apakah sebuah informasi atau berita adalah benar atau tidak benar (fake/hoax).

Penyebaran Data yang berlimpah setiap hari.

Dengan kemampuan berbagai tools digital saat ini, kita dapat mengumpulkan berbagai data dan informasi yang terdapat di berbagai situs dan platform media sosial.

Data-data di atas dapat diolah menjadi sebuah kesimpulan tentang kebiasaan atau perilaku sebuah komunitas atau kelompok tertentu.

Bisa kita bayangkan, ada sekitar 2, 79 miliar pengguna media sosial (di seluruh dunia) pada tahun 2017 yang menggunakan berbagai platform media sosial secara aktif.

Mereka setiap hari mengisi, menyebarkan ,membaca dan menonton berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, bagaimana para user atau pengguna ini dapat membedakan bahwa informasi dan data yang dilihat atau dibaca atau bahkan ditonton adalah informasi yang benar dan valid.

Dan apakah para pengguna yang menggunakan media sosial sadar, bahwa informasi atau datanya dapat dibaca orang lain atau pihak tertentu untuk tujuan yang baik dan kurang baik.

Berbagai kejadian di dunia seperti pemboman marathon Boston 2013 , serangan Bernadino pada tahun 2015 , bahkan serangan Paris Bataclan tahun 2015 disinyalir digerakkan secara online dan dipengaruhi oleh berbagai informasi yang disebar secara online termasuk melalui media sosial.

Konon, pihak berwajib disana kesulitan dalam mengawasi potensi ancaman secara online, secara realitas sangat sulit mengawasi jutaan posting yang ada di media online, baik berupa berita, artikel bahkan video yang selalu diupdate setiap hari.

Bayangkan berapa banyak orang yang harus mengawasi, kecuali diciptakan tools tertentu yang dapat mengawasi semua hal ini.

Kasus Facebook.

Kasus pemanfaaatan data user di media sosial seperti Facebook, sebenarnya dapat terjadi di platform lainnya.

Sayangnya , kasus yang terjadi di Facebook, dimana negara lain dapat menyusup ke platform ini dengan memberikan berbagai posting dan menyisipkan iklan untuk mengganggu proses pemilu 2016 di Amerika.

Banyak orang awalnya tidak percaya dengan hal ini, bahkan menganggap tidak mungkin.

Tetapi saat ini berbagai media asing yang terpercaya, mulai berani mengutarakannya.

Bahkan aparat penegak hukum berbagai negara mulai melakukan investigasi tentang kasus ini.

Apalagi melihat kasus Facebook yang memiliki hampir 2 milyar pengguna di dunia, isu ini menjadi hal penting dan prioritas bagi siapa saja.

Pihak Facebook sendiri berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi dan rencana perbaikan yang akan dilakukan, tetapi sepertinya pengguna Facebook atau aparat hukum masih terus menyelidikinya.

Terutama tentang keamanan dan penggunaan data privasi para penggunanya.

Media Sosial di Indonesia.

Menurut data dari ‘We are Social’ pada Januari 2018 ,Indonesia dan Brasil adalah pengguna Facebook no.3 atau no 4 di dunia dengan jumlah yang sama yaitu 130 juta pengguna. Di atasnya ada 2 negara yaitu India (dengan 250 juta pengguna) dan USA (dengan 230 juta pengguna)

Di Indonesia sendiri, rata-rata waktu yang digunakan untuk membuka media sosial (termasuk Facebook) adalah 3 jam 23 menit/hari .

Para pengguna Facebook ini , biasa membuka jumlah halaman facebook dengan rata-rata 14.2 halaman/visit.

Dan sebaran para pengguna adalah 56 % adalah kaum pria dan sisa 44% adalah wanita.

Dari sisi usia, mayoritas penggunanya adalah berada di usia 18-34 tahun , yang jumlahnya sekitar 65% atau 84.5 juta orang.

Jumlah pengguna ini adalah para Millenials yang akan menjadi pengambil keputusan di masa depan.

Jika para Millenials ini dapat menggunakan berbagai platform Media Sosial seperti Facebook untuk tujuan yang positif , seperti menyebarkan berita baik atau melakukan edukasi , maka dampak yang diberikan akan baik .

Tetapi sebaliknya, jika digunakan untuk menyebarkan fake news atau hoax, maka hal ini akan merugikan semua pihak.

Harapan ke depan .

Mudah-mudahan Para Pemilik Platform Media Sosial seperti Facebook , Youtube, Instagram, Twitter dan lainnya dapat menyikapi hal ini dengan serius.

Mereka tidak hanya melihat dari sisi ekonomi dan bisnis saja, tetapi mau melihat dari sisi sosial budaya , dan dampaknya kepada hubungan antar manusia , hubungan antar kelompok, bahkan hubungan antar negara.

Melihat kasus Facebook saat ini, Kita akan menunggu dan melihat bagaimana kelanjutan penyelesaian kasusnya.

Karena hal ini akan berdampak kepada semua platform Media Sosial lainnya.

Dan kita sebagai pengguna Media Sosial , tentunya akan belajar bagaimana dapat menggunakan berbagai platform Media Sosial secara bijaksana dan benar.

Related Posts

Leave a comment